Kamis, 02 Juni 2011

Menjadi Seseorang Yang Sukses

Ada 3 (tiga) hal yang harus kita pertimbangan dalam setiap langkah:
1.Hati-hati dalam membuat kebijakan
Sebuah kebijakan harus dibuat dengan hati-hati dan telah mempertimbangkan dari setiap segi, karena kebijakan yang salah akan sulit perbaikannya. Apalagi kalau kita bekerja di perbankan, yang selalu berhadapan dengan risiko dan uang, maka kebijakan yang keliru akan berakibat pada kerugian secara financial.
Sebagaimana kita ketahui, di dalam membuat kebijakan, pada umumnya kita melibatkan pakar-pakar, termasuk dari Divisi legal, namun dalam implementasinya ada saja kebijakan yang pada awalnya baik ternyata tak sesuai dilapangan. Oleh karena itu, dalam setiap kebijakan harus ada escape clause, yang akan memudahkan dilakukannya revisi. Namun kebijakan yang mudah dilakukan revisi akan membingungkan pelaksana dilapangan, dan hal ini bisa membuat terjadinya penyimpangan tak disengaja dilapangan karena kebijakan yang berubah-ubah akan sulit pelaksanaannya dilapangan.
2.Transparan dan rendah hati, sehingga menghindari fitnah
Transparan, istilah ini sangat penting terutama apabila jika kita bekerja dilingkungan yang berisiko tinggi . Bank termasuk lembaga atau perusahaan yang berisiko tinggi, oleh karena itu diatur secara ketat oleh Bank Indonesia, serta harus mengikuti peraturan internasional (Basel 2). Secara garis besar kita mengenal 3 risiko di Bank, yaitu; Risiko Kredit (risiko yang muncul apabila terjadinya keterlambatan pembayaran dari debitur), risiko pasar (terjadi karena adanya perubahan tingkat suku bunga), serta risiko operasional (yang diakibatkan oleh kesalahan sistem, teknologi dan manusia). Pada setiap posisi di perbankan, setiap harinya dihadapkan pada sebagian atau ketiga risiko tersebut. Oleh karena itu, sikap, tingkah laku, dan kebijakan yang dibuat harus dilakukan secara transparan, agar setiap orang memahami bahwa kebijakan tersebut dibuat untuk kepentingan organisasi/perusahaan, agar strategi bisnis perusahaan dapat dicapai sesuai target yang ditetapkan oleh pemegang saham. Di samping itu, sebagai pimpinan harus bersikap low profile, rendah hati, agar setiap orang yang berhubungan, baik secara profesional maupun secara personal merasa nyaman. Sebagai seorang pimpinan, setiap sikap dan perilaku sehari-hari akan membawa image perusahaan, oleh karena itu sikap dan perilaku ini perlu dijaga agar sesuai dengan kebijakan perusahaan. Seorang pimpinan yang kurang terbuka, atau kurang bisa membawa diri, memudahkan timbulnya fitnah, karena setiap kebijakan yang dilaksanakan akan menimbulkan polemik. Dengan terbuka, setiap orang yang berkepentingan dapat dengan mudah memahami dan menilai alasan dikeluarkannya kebijakan tersebut.
3.Baca dan bacalah…..agar selalu membaca
Membaca setiap peraturan, akan membuat langkah yang dilakukan telah sesuai dengan sistim dan prosedur yang digariskan. Namun berbuat sesuai prosedur saja tidak cukup, sebagai pimpinan perlu banyak membaca, dan memahami berbagai persoalan yang terjadi, karena hal ini akan memudahkan dalam pergaulan. Dalam setiap langkah, pemahaman akan pengetahuan, kondisi ekonomi dan profil bisnis perusahaan lain, akan memudahkan untuk mengetahui posisi perusahaan kita, sehingga kita tahu secara pasti apa yang terjadi di perusahaan.

Membangun Semangat Agar Tidak Padam

Apabila kita hanya sekedar membaca berita, menonton televisi, akhir-akhir ini sungguh terasa menyesakkan dan membuat kita pesimis. Namun hal itu tak boleh terjadi, karena orang yang pesimis sudah tak ingin apa-apa lagi, akibatnya akan makin terpuruk. Maka, marilah kita mencoba, dari diri sendiri dan lingkungan sendiri, agar selalu berpikir dan berbuat positif. Kita juga melihat, diantara keterpurukan, masih banyak yang bisa kita lihat orang-orang yang optimis, yang melihat hambatan sebagai peluang.
Keyakinan atau belief, bisa berakibat positif dan mendorong kemauan kita untuk mencapai apa yang kita impikan. Bagaimana cara kita agar semua impian ini bisa diimplementasikan menjadi semangat yang ibaratnya api, tak pernah padam. Kita harus mulai dari memikirkan apa yang kita ingin capai, meresapi ide atau cita-cita tersebut sampai meresap dan masuk dihati kita, kemudian menjaga agar apa yang pernah menjadi cita-cita ini tak pernah padam. Jadi mimpilah, kemudian upayakan agar mimpi ini tercapai. Betapa banyaknya impian kita saat kecil, yang rasanya tak tercapai, ternyata saat ini telah tercapai bahkan melebihi impian itu sendiri. Namun ada juga impian yang belum tercapai saat ini. Jadi, bermimpilah, dan capai lah mimpimu itu.
Beberapa hari lalu, saya dan teman mengobrol santai, membahas bagaimana ya anak-anak kita nanti. Bagi saya dan teman, yang dibesarkan di kota kecil, budaya timur masih mengental, mungkin lebih mudah dalam menerima orang lain berperilaku, yang terkadang kurang sesuai atau tak masuk akal. Anak-anak sekarang, yang telah dididik demokratis, sangat berani dalam menyuarakan argument - argumennya padahal kalau saya dan teman tadi melihat, situasi Indonesia, lingkungan kerja kita, sebagian besar masih sama seperti saat saya pertama kali masuk kerja. Memang ada yang sudah berpikir terbuka, namun kadang-kadang, apa yang dirasakan belum tentu sama dengan yang disuarakan keluar.
Namun saya yakin masih banyak orang yang berani mengambil risiko, tapi sekarang harus memperhitungkan risiko itu, dan menilai seberapa besar risiko yang akan diambil dan apa akibatnya bagi diri sendiri, lingkungan dan bangsa. Anak saya yang satu lagi mengatakan, dia prihatin karena beberapa temannya sekarang malah ingin terus bekerja di luar negeri setelah lulus kuliah di sana. Di satu sisi, saya tak menyalahkan mereka, karena dimanapun kita berada, kita masih bisa bermanfaat bagi bangsa ini. Apalagi jika keberadaan di luar negeri dalam rangka mengumpulkan modal, untuk membangun usaha di negara kita nantinya.
Apakah kita akan menyerah? Tentu saja tidak, bagaimanapun situasi saat ini masih lebih baik dibanding situasi sebelum reformasi. Kita tetap harus berupaya agar kita tak menjadi pasif dan menjadi kurang semangat dalam menghadapi tantangan. Justru jadikanlah tantangan itu suatu peluang. Jika kita mengingat masa krisis ekonomi sepuluh tahun lalu, betapa banyaknya yang bisa berhasil menghadapi tantangan dan sekarang menuai hasilnya. Namun juga tak jarang yang akhirnya tersungkur. Bagaimanapun itu pilihan kita, apakah kita mau terus maju, atau sudah menyerah kalah ditengah jalan?
Cara Lain Redakan Sakit Tanpa Minum Obat

Minum obat memang dapat meredakan atau menyembuhkan suatu penyakit. Namun bila Anda selalu mengonsumsi obat, maka ada beberapa efek samping yang terjadi pada tubuh. Lantas bagaimana cara meredakan rasa sakit tanpa minum obat?
"Setiap kali Anda mengambil (mengonsumi) obat entah itu obat resep atau tanpa resep, maka Anda akan mendapatkan beberapa risiko tertentu. Jika digunakan secara teratur, maka risikonya akan semakin banyak," jelas Sandra Kweder, MD, Wakil Direktur Kantor Obat Baru di pusat Food & Drug Administration (FDA) AS untuk evaluasi dan penelitian obat.
Berikut cara lain yang bisa meredakan sakit tanpa harus minum obat, yaitu:
1. Batuk, ganti sirup batuk dengan madu
Madu yang berkualitas dan kental dapat menjadi pengganti sirup obat batuk. Sirup batuk dan madu pada dasarnya melakukan hal yang sama, yaitu menjadi 'mantel' tenggorokan sehingga menghilangkan iritasi. Bahkan, sebuah penelitian di Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine menemukan bahwa sesendok madu lebih baik dibandingkan dextromethorphan (DM).
2. Sering sakit kepala, ganti obat penghilang rasa sakit dengan tidur
Minum obat penghilang rasa sakit boleh-boleh saja dilakukan, tapi tidak disarankan untuk sering-sering mengonsumsinya. "Hindari obat majemuk (banyak). Upayakan tidak (minum obat penghilang rasa sakit) lebih dari dua minggu," jelas Peter Goadsby, MD, Direktur Pusat Sakit Kepala di University of California di San Francisco.
Menurutnya, fokus pada pola tidur dapat meredakan sakit kepala. Area otak yang berkontribusi terhadap nyeri kepala juga terlibat dalam tidur. Maka dengan menjaga pola tidur yang baik dapat menurunkan rasa sakit di kepala.
3. Stres dan depresi ringan, ganti obat antidepresan dengan aktivitas yang menenangkan otak
Untuk melawan depresi pertimbangkan untuk tidak menggunakan obat. Carilah kegiatan lain yang dapat menenangkan pikiran Anda, seperti mendengarkan musik, olahraga atau jalan-jalan bersama keluarga.
4. Sembelit, ganti pencahar dengan minum 2 gelas air putih sebelum sarapan
Usus besar dapat lambat bergerak atau tidak menyerap cairan karena beberapa alasan seperti tidak mengonsumsi cukup serat, kurang olahraga, dehidrasi dan obat-obatan tertentu. Tapi hilangkan kebiasaan menggunakan pencahar dan ganti dengan menenggak 2 gelas air putih sebelum sarapan. Cara ini akan membantu memudahkan Anda untuk buang air besar.
5. Flu, ganti obat antivirus dengan makanan atau kegiatan yang meningkatkan sistem kekebalan tubuh
Tak perlu minum obat, beberapa makanan seperti jahe, bawang putih, cabai, cairan hangat, makanan yang mengandung zinc (kacang, buncis, seafood, kedelai) juga bisa meningkatkan sistem imun yang dapat meringankan gejala flu. Selain itu, perbanyak olahraga.

Menikmati “Gonggong” dan kuliner lainnya di Kepri

Jika bepergian ke suatu daerah, tentu kita ingin mendapat kesempatan mencicipi makanan khas daerah tersebut. Saat ada tugas ke luar kota, kita harus pandai menyisihkan waktu untuk bisa mencicipi makanan khas ini, entah di saat makan siang maupun makan malam. Kali ini saya mendampingi atasan melakukan kunjungan ke pulau Bintan, melewati Batam terlebih dahulu. Begitu keluar dari bandara Hang Nadim, teman dari Batam menawarkan untuk makan siang di Batam Centre Mal, tentu saja tawaran ini tak kami tolak, apalagi dia cerita bahwa masakan “Yong Kee Restaurant Istimewa” sangat terkenal, dan telah berpengalaman belasan tahun.

Cuaca yang tak bersahabat, menyebabkan perjalanan dari Jakarta ke Batam terasa sekali goncangannya, membuat makan di pesawat juga kurang nyaman. Karena perut sebagian telah terisi oleh makanan di pesawat Garuda, kami hanya memesan sup ikan, yang menjadi ciri khas restoran ini. Untuk sayurnya, kami memesan Ca Kailan, ternyata disini Ca Kailan diberi tambahan irisan wortel. Begitu merasakan satu suapan, saya terhenyak… sedaap sekali ….badan langsung terasa hangat setelah selesai menyantap sup ikan ini.

Untuk minum, kembali pada aturan pokok, yaitu harus minum panas agar badan tak masuk angin, jadi saya sendiri memesan hot lemon tea. Selesai makan, saya nyaris tak bisa berdiri karena kekenyangan. Namun waktu terus berlalu, perjalanan masih panjang, kami masih harus naik ferry menyeberang laut untuk menuju Tanjung Pinang, kemudian jalan darat ke arah Lagoi.

Kami langsung menuju pelabuhan Telaga Punggur di Batam, naik ferry “Citra Indah” menuju ke pelabuhan Sri Bintan Pura, di Tanjung Pinang. Sempat mampir sebentar di rumah saudara teman, di dekat Sei Jang untuk ikut sholat, kemudian terus menuju Lagoi. Makan di Nirwana Gardens Hotel, yang diperuntukkan bagi para peserta dan pembicara seminar, tak perlu saya ceritakan, karena makanan hotel terutama yang telah berbintang empat, relatif sudah standar. Selesai temanku menjadi pembicara seminar, kami segera bertolak dari Lagoi kembali ke Tanjung Pinang, langsung ke rumah mertua teman. Di sana sudah ada beberapa saudara yang berkumpul, karena suami temanku memang asli Tanjung Pinang dan berasal dari keluarga besar. Omong-omong, akhirnya disepakati sebaiknya makan malam bersama di “Nelayan Seafood Restaurant” agar semua keluarga bisa bertemu, karena jika datang dari rumah ke rumah waktunya tak cukup, karena besok pagi-pagi harus kembali ke Batam, kemudian ke Jakarta. Lokasi Nelayan Seafood Restaurant ini di pinggir Sei Jang (sungai Jang) sehingga bisa menikmati makan malam sambil mendengarkan riak air sungai.

Malam itu, Keluarga Haji Moeh Daud, sekitar 30 orang bisa berkumpul di Nelayan Seafood Restaurant. Saya ikut serta bersama kegembiraan seluruh keluarga besar ini, dan merasa menyatu dengan mereka, karena mereka ramah tamah dan terus mengajak mengobrol sehingga saya tak merasa sendirian. Encik Azwar mengatakan pada saya, bahwa saya belum merasa ke Tanjung Pinang kalau belum merasakan rasa gonggong, makanan daerah khas Tanjung Pinang. Gonggong ini sampai dibuat patungnya, di jalan dari arah pelabuhan Sri Bintan Pura ke arah kota, dan konon banyak orang yang berfoto di dekat patung gonggong tersebut. Saat melihat bentuknya, sebetulnya saya merasa “takut”, namun saya merasa tak enak kalau tak mau mencoba…..perasaan yang sama seperti saat pertama kali mencicipi sasimi (makanan khas Jepang, dari ikan/daging mentah). Mengapa saya agak takut, karena gonggong ini yang sebetulnya sejenis kerang, menurut saya lebih mirip bekicot yang suka jalan-jalan di rerumputan dan makan daun tanaman. Tapi gonggong yang dimakan ini hidup di air laut.

Cara makannya dengan menarik ekor tubuh yang lunak (yang ujung berwarna hitam tak boleh dimakan), kemudian mencocolkannya di sambal. Sambal sebagai teman makan gonggong merupakan sambal kacang, ada rasa asam manisnya, yang saya perkirakan berasal dari campuran nenas dan kacang tanah. Rasanya kenyal-kenyal gurih, dan untuk perkenalan pertama saya cukup memakan dua gonggong saja dulu, karena kadar kolesterol di gonggong sangat tinggi. Makanan lain yang menarik adalah udang, namun saya juga cuma mengambil satu ekor udang saja. Dan makanan yang saya serbu tanpa kenal takut adalah tim ikan kerapu, rasanya segar dan hangat karena tim ikan kerapu ini ditaburi irisan jahe yang masih muda, awalnya saya kira irisan bengkoang, ditambah irisan daun bawang yang diiris tipis panjang dan irisan cabe merah. Wahh…rasanya benar-benar nikmat.

Malam itu saya benar-benar kekenyangan, tidur nyenyak di hotel Comfort Tanjung Pinang. Besoknya, setelah makan pagi, kami segera menuju pelabuhan Sri Bintan Pura, untuk melanjutkan perjalanan ke Batam. Sempat mampir ke jalan Sumatra, saya diberi oleh-oleh otak-otak oleh Encik Azwar. Terimakasih encik…..otak-otaknya sungguh enak. Setelah di rumah, saya mencoba mencicipi otak-otak dari Tanjung Pinang ini, awalnya mencari padanan sambalnya, rupanya otak-otak Tanjung Pinang sudah diberi bumbu dan langsung dimakan begitu saja, yang berbeda dengan otak-otak Makassar dan Palembang, yang cara makannya perlu di cocol sambal lebih dulu. Oleh teman dari Batam, kami diajak ke Nagoya Centre, untuk membeli oleh-oleh khas Batam, yaitu “Kek Pisang Villa” yang letaknya persis di sebelah Hotel Nagoya Plaza.

Selanjutnya kami segera pergi ke Bandara agar tak ketinggalan pesawat. Pengalaman mencicipi makanan di Kepulauan Kepri ini benar-benar tak terlupakan, terutama karena ditemani oleh teman dan keluarga nya yang mengasyikkan.