Kamis, 02 Juni 2011

Membangun Semangat Agar Tidak Padam

Apabila kita hanya sekedar membaca berita, menonton televisi, akhir-akhir ini sungguh terasa menyesakkan dan membuat kita pesimis. Namun hal itu tak boleh terjadi, karena orang yang pesimis sudah tak ingin apa-apa lagi, akibatnya akan makin terpuruk. Maka, marilah kita mencoba, dari diri sendiri dan lingkungan sendiri, agar selalu berpikir dan berbuat positif. Kita juga melihat, diantara keterpurukan, masih banyak yang bisa kita lihat orang-orang yang optimis, yang melihat hambatan sebagai peluang.
Keyakinan atau belief, bisa berakibat positif dan mendorong kemauan kita untuk mencapai apa yang kita impikan. Bagaimana cara kita agar semua impian ini bisa diimplementasikan menjadi semangat yang ibaratnya api, tak pernah padam. Kita harus mulai dari memikirkan apa yang kita ingin capai, meresapi ide atau cita-cita tersebut sampai meresap dan masuk dihati kita, kemudian menjaga agar apa yang pernah menjadi cita-cita ini tak pernah padam. Jadi mimpilah, kemudian upayakan agar mimpi ini tercapai. Betapa banyaknya impian kita saat kecil, yang rasanya tak tercapai, ternyata saat ini telah tercapai bahkan melebihi impian itu sendiri. Namun ada juga impian yang belum tercapai saat ini. Jadi, bermimpilah, dan capai lah mimpimu itu.
Beberapa hari lalu, saya dan teman mengobrol santai, membahas bagaimana ya anak-anak kita nanti. Bagi saya dan teman, yang dibesarkan di kota kecil, budaya timur masih mengental, mungkin lebih mudah dalam menerima orang lain berperilaku, yang terkadang kurang sesuai atau tak masuk akal. Anak-anak sekarang, yang telah dididik demokratis, sangat berani dalam menyuarakan argument - argumennya padahal kalau saya dan teman tadi melihat, situasi Indonesia, lingkungan kerja kita, sebagian besar masih sama seperti saat saya pertama kali masuk kerja. Memang ada yang sudah berpikir terbuka, namun kadang-kadang, apa yang dirasakan belum tentu sama dengan yang disuarakan keluar.
Namun saya yakin masih banyak orang yang berani mengambil risiko, tapi sekarang harus memperhitungkan risiko itu, dan menilai seberapa besar risiko yang akan diambil dan apa akibatnya bagi diri sendiri, lingkungan dan bangsa. Anak saya yang satu lagi mengatakan, dia prihatin karena beberapa temannya sekarang malah ingin terus bekerja di luar negeri setelah lulus kuliah di sana. Di satu sisi, saya tak menyalahkan mereka, karena dimanapun kita berada, kita masih bisa bermanfaat bagi bangsa ini. Apalagi jika keberadaan di luar negeri dalam rangka mengumpulkan modal, untuk membangun usaha di negara kita nantinya.
Apakah kita akan menyerah? Tentu saja tidak, bagaimanapun situasi saat ini masih lebih baik dibanding situasi sebelum reformasi. Kita tetap harus berupaya agar kita tak menjadi pasif dan menjadi kurang semangat dalam menghadapi tantangan. Justru jadikanlah tantangan itu suatu peluang. Jika kita mengingat masa krisis ekonomi sepuluh tahun lalu, betapa banyaknya yang bisa berhasil menghadapi tantangan dan sekarang menuai hasilnya. Namun juga tak jarang yang akhirnya tersungkur. Bagaimanapun itu pilihan kita, apakah kita mau terus maju, atau sudah menyerah kalah ditengah jalan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar